RESISTENSI ANTIBIOTIK

12 07 2009

Oleh: Ady Tasada, AMG

(S1 Gizi Alih Jenjang  STIKES Husada Borneo Banjarbaru)

  1. LATAR BELAKANG

Tepat 81 tahun lalu (1928), Sir Alexander Fleming telah meletakkan tonggak paling bernilai dalam dunia pengobatan. Penemuan Penicillin dari bahan natural, jamur Penicilium notatum telah berjasa menyelamatkan nyawa jutaan orang dari ganasnya berbagai penyakit infeksi yang sebelumnya sulit tertangani. Konsep “kuman dapat dibunuh dari zat yang dihasilkan oleh kuman dan jamur” memicu penemuan berbagai obat lainnya seperti tetrasiklin, sefalosporin, erythromycin dan banyak lainnya yang sekarang kita kenal sebagai Antibiotika. Sehingga pantaslah bagi Lembaga Nobel menganugerahi Alexander Fleming Hadiah Nobel untuk bidang kedokteran pada 1945.

Setiap antibiotik sangat beragam efektivitasnya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif saja, dan ada pula yang spektrumnya lebih luas, melawan ke duanya. Kemampuan antibiotika dalam menyembuhkan juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut. Di samping itu, berkat kemajuan teknologi farmasi, pemakaian antibiotika generasi terakhir tidaklah seruwet sebelumnya. Banyak antibiotika kini digunakan dua kali sehari. Malah ada juga yang 1 kali sehari, dengan kemampuan membunuh kuman yang lebih prima.

Kuman juga mahluk hidup. Mereka rupanya mengadakan berbagai “upaya dan konsolidasi” untuk melawan serangan antibiotika. Karena sering terpapar antibiotika yang tidak terkontrol penggunaannya, banyak kuman yang resisten terhadap antibiotika. Antibiotika yang tadinya ampuh membunuh kuman, perlahan-lahan mulai tidak mampu membunuh kuman.

Karena makin banyak kuman yang resisten, para ilmuwan berpacu dengan waktu mencari antibiotika baru sebagai pengganti. Saat ini, setidaknya ada 3 antibiotika baru yang sedang diteliti efektifitasnya dalam membasmi bakteri .

Ketiga antibiotika tersebut adalah myxopyronin, corallopyronin, dan ripostatin, yang bekerja dengan menghambat kerja RNA polymerase dari bakteri (ensim yang dibutuhkan bakteri untuk membentuk protein). Ketiga antibiotika baru tersebut termasuk kelompok antibiotika broad spektrum, mampu membunuh banyak kuman ganas, termasuk kuman TBC yang sudah mulai resisten terhadap banyak obat TBC.

Resistensi antibiotika merupakan suatu masalah yang besar dan berkembang diseluruh dunia. Kuman-kuman resisten yang muncul akibat penggunaan antibitoka yang berlebihan, akan menimbulkan masalah yang serius dan sulit diatasi. Saat ini kuman resisten antibiotika yang sudah banyak dikenal dan menimbulkan banyak masalah diseluruh dunia diantaranya adalah Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus (MRSA), Extended Spectrum Betalaktamase (ESBL) dan penicillin resistance pneumococci.

  1. TUJUAN UMUM

Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan Tugas Tengah Semester Mata Kuliah Farmakologi Gizi dengan judul Resistensi Antibiotika di Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Husada Borneo Banjarbaru Tahun 2009.

  1. TUJUAN KHUSUS

- Mengetahui definisi dari antibiotika

- Mengetahui definisi dari resistensi

- Mengetahui klasifikasi resistensi antibiotika

- Mengetahui mekanisme terjadinya resistensi

- Mengetahui sebab-sebab terjadinya resistensi kuman terhadap antibiotika

- Mengetahui cara pengendalian resistensi antibiotika

BAB ll

ISI

  1. DEFINISI ANTIBIOTIKA

Antibiotika berasal dari kata Anti yang berarti lawan dan Bios berarti hidup. antibiotika dapat didefinisikan sebagai semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup atau yang diperoleh melalui sintesis yang memiliki indeks khemoterapi tinggi, yang manifestasi aktivitasnya terjadi pada dosis yang sangat rendah secara spesifik melalui inhibisi proses vital tertentu pada virus, mikroorganisme ataupun juga berbagai organisme bersel majemuk.

Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedang toksisitasnya bagi manusia relatif kecil.

Akan tetapi, berhubung dengan sifat toksisnya bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang digunakan sebagai obat, antara lain streptomisin (1944), Chloramphenicol (1947), tetrasiklin (1948), Eritromisin (1952), Rifampisin (1960),bleomisin (1965) dan doksorubisin (1969).

Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada juga dalam bentuk suntikan (parenteral), salep, krim, supositoria (dimasukkan ke liang dubur atau vagina); lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau krim antibiotika, infeksi mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi telinga tengah memakai tetes kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai antibiotika berbentuk peluru yang dimasukkan ke dalam vagina.

Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang sakit seperti kebiasaan sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat. Efek penembusan antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika diminum, atau bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk salep atau krim jika untuk dipakai pada kulit.

B. PEMBUATAN ANTIBIOTIKA

Antibiotika dibuat secara mikrobiologi, yaitu fungi dibiakan dalam tangki besar bersama zat gizi khusus. Oksigen atau udara steril disalurkan kedalam cairan pembiakan guna mempercepat pertumbuhan fungi dan meningkatkan produksi antibiotikumnya. Setelah di isolasi dari cairan kultur, antibiotikum dimurnikan dan aktivitasnya ditentukan, dari cara persemaian antibiotika terbagi dua,yaitu :

  1. Antibiotika semi sintetis apabila pada persemaian kultur dibubuhi zat

pelopor tertentu, hasilnya disebut senyawa semi sintetis, misalnya

penisilin.

  1. Antibiotika sintetis tidak dibuat lagi dengan jalan biosintetis tersebut,

melainkan dengan senyawa kimiawi, misalnya klorampenicol.

C. MANFAAT ANTIBIOTIKA

Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat untuk melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada kuman yang besar, ada yang kecil, dengan sifat yang beragam pula.

Kuman cenderung bersarang di organ tertentu di tubuh yang ditumpanginya. Ada yang suka di otak, di paru-paru, di usus, saraf, ginjal, lambung, kulit, atau tenggorok, dan lainnya. Di organ-organ tempat bersarangnya itu, kuman tertentu menimbulkan infeksi. Kuman tipus menimbulkan penyakit tipus di usus, kuman TBC di paru-paru, selain bisa juga di tulang, ginjal, otak, dan kulit. Kuman lepra di saraf dan kulit, kuman difteria di tenggorokan, tetanus di saraf, dan banyak lagi.

Selain itu, ada pula jenis antibiotika yang sempit pemakaiannya, spesifik hanya untuk kuman-kuman tertentu saja. Misalnya, antibiotika untuk kuman TBC (mycobacterium tuberculosis), untuk lepra atau kusta (mycobaterium leprae), atau untuk tipus (salmonella tyhphi).

D. KAPAN ANTIBIOTIKA DIGUNAKAN
Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman. Infeksi terjadi jika kuman memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu masuknya sendiri-sendiri. Ada yang lewat mulut bersama makanan dan minuman, lewat udara napas memasuki paru-paru, lewat luka renik di kulit, melalui hubungan kelamin, atau masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang disukainya untuk bersarang.

Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu badan meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan reaksi merah meradang, bengkak, panas, dan nyeri. Contohnya bisul. Di usus,
bergejala mulas, mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok, atau sesak napas. Di otak, nyeri kepala. Di ginjal, banyak berkemih, kencing merah atau seperti susu.

Penyakit yang disebabkan bukan oleh kuman tidak mempan diobati dengan antibiotika. Untuk virus diberi antivirus, dan untuk parasit diberi antinya, seperti antimalaria, antijamur, dan anticacing. Jika infeksi oleh jenis kuman yang spesifik, biasanya dokter langsung memberikan antibiotika yang sesuai dengan kuman penyebabnya. Misal bisul di kulit, tetanus, difteria, tipus, atau infeksi mata merah.

Untuk infeksi yang meragukan, diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikan jenis kuman penyebabnya. Caranya dengan melakukan pembiakan (kultur) kuman. Bahan biakannya diambil dari darah atau air liur, dahak, urine, tinja, cairan otak, nanah kemaluan, atau kerokan kulit.

Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis kumannya, dapat langsung diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk menumpasnya (tes resistensi). Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih tepat. Jika tidak dilakukan tes resistensi, bisa jadi antibiotika yang dianggap mampu sudah tidak mempan, sebab kumannya sudah kebal terhadap jenis antibiotika yang dianggap ampuh tersebut.

E. KENAPA KUMAN JADI RESISTENSI ANTIBIOTIKA

Pemakaian antibiotika di negara-negara sedang berkembang sering tidak terkontrol dan cenderung serampangan. Antibiotika yang bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakaian, dan tidak dipakai sampai tuntas, menimbulkan generasi kuman yang menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotika yang digunakan secara tidak tepat dan serampangan itu, misalnya pemakaian antibiotika yang tidak dihabiskan, atau menebusnya setengah resep.

Semakin sering dan banyak disalahgunakan suatu antibiotika, semakin cepat menimbulkan kekebalan kuman yang biasa ditumpasnya. Pemakaian antibiotika golongan erythromycine yang paling banyak dan luas dipakai di dasawarsa 80-an, semakin banyak melahirkan generasi kuman yang kebal terhadapnya. Lalu, dibuat generasi baru dari rumpun yang sama. Setiap beberapa tahun, lahir jenis generasi antibiotika baru untuk membasmi jenis kuman yang sudah kebal. Tentu, dengan harga yang lebih mahal.

F. EFEK SAMPING ANTIBIOTIKA
Seperti obat umumnya, antibiotika juga punya efek samping masing-masing. Ada yang berefek buruk terhadap ginjal, hati, ada pula yang mengganggu keseimbangan tubuh. Pasien dengan gangguan hati, misalnya, tidak boleh diberikan antibiotika yang efek sampingnya merusak hati, sekalipun ampuh membasmi kuman yang sedang pasien idap.

Dokter perlu memilihkan antibiotika lain, mungkin kurang ampuh, namun tidak berefek pada hati.

Namun, jika suatu antibiotika tidak ada penggantinya, antibiotika tetap dipakai, dengan catatan, bahaya efek samping pada seorang pasien memerlukan monitoring oleh dokter, jika dipakai untuk jangka waktu yang lama. Antibiotika untuk TBC, misalnya, yang diminum sedikitnya 6 bulan, perlu pemeriksaan fungsi hati secara berkala, agar jika sudah merusak hati, obat dipertimbangkan untuk diganti.

G. BAHAYA TERLALU SERING MENGGUNAKAN ANTIBIOTIKA
Pemakaian antibiotika yang terlalu sering tidak dianjurkan. Di negara kita, orang bebas membeli antibiotika dan memakainya kapan dianggap perlu. Sedikit batuk pilek, langsung minum antibiotika. Baru mencret sekali, langsung antibiotika. Padahal belum tentu perlu. Kenapa?

Belum tentu batuk pilek disebabkan oleh kuman. Awalnya oleh virus. Jika kondisi badan kuat, penyakit virus umumnya sembuh sendiri. Yang perlu dilakukan pada penyakit yang disebabkan oleh virus adalah
memperkuat daya tahan tubuh dengan cukup makan, istirahat, dan makanan bergizi. Pemberian antibiotika pada batuk pilek yang disebabkan oleh virus hanya merupakan penghamburan dan merugikan badan, sebab memikul efek samping antibiotika yang sebetulnya tak perlu terjadi.

Kasus batuk pilek virus yang sudah lama, yang biasanya sudah ditunggangi oleh kuman, baru membutuhkan antibiotika untuk membasmi kumannya, bukan untuk virus flunya. Tanda batuk pilek membutuhkan antibiotika adalah dengan melihat ingusnya. Yang tadinya encer bening sudah berubah menjadi kental berwarna kuning-hijau. Selama ingusnya masih encer bening, antibiotika tak diperlukan.

Minum antibiotika kelewat sering juga mengganggu keseimbangan flora usus. Kita tahu, dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu pencernaan dan pembentukan vitamin K. Selain itu, di bagian-bagian tertentu tubuh kita juga hidup kuman-kuman jinak yang hidup berdampingan dengan damai dengan tubuh kita. Di kemaluan wanita, di kulit, di mulut, dan di mana-mana bagian tubuh ada kuman yang tidak mengganggu namun bermanfaat (simbiosis).

Terlalu sering minum antibiotika berarti membunuh seluruh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh. Jika populasi kuman jinak yang bermanfat bagi tubuh terbasmi, keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu, sehingga jamur yang tadinya takut oleh kuman-kuman yang ada di tubuh kita berkesempatan lebih mudah menyerang.

Itu maka, banyak orang yang setelah minum antibiotika yang kelewat lama, kemudian terserang penyakit jamur. Bisa jamur di kulit, usus, seriawan di mulut, atau di mana saja. Keputihan sebab jamur pada wanita, antara lain lantaran vagina kelewat bersih oleh antisepsis yang membunuh kuman bermanfaat di sekitar vagina (Doderlein).

H. BERAPA LAMA MENGKONSUMSI ANTIBIOTIKA
Lama pemakaian antibiotika bervariasi, tergantung jenis infeksi dan kuman penyebabnya. Paling sedikit 4 -5 hari. Namun, jika infeksinya masih belum tuntas, antibiotika perlu dilanjutkan sampai keluhan dan gejalanya hilang. Pada tipus, perlu beberapa minggu. Demikian pula pada difteria, tetanus. Paling lama pada TBC yang memakan waktu berbulan-bulan.

Pada infeksi tertentu, setelah pemakaian antibiotika satu kir, perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman ulang untuk memastikan apakah kuman sudah terbasmi tuntas. Infeksi saluran kemih, misalnya, setelah selesai satu kir antibiotika dan keluhan gejalanya sudah tiada, biakan kuman dilakukan untuk melihat apa di ginjal masih tersisa kuman. Jika masih tersisa kuman dan antibiotikanya tidak dilanjutkan, penyakit infeksinya akan kambuh lagi.

Termasuk pada infeksi gigi. Sakit gigi biasanya disebabkan oleh adanya kuman yang memasuki gusi dan tulang rahang melalui gigi yang bolong. akibatnya gusi membengkak dan nyeri. Antibiotika diberikan sampai keluhan nyeri gigi hilang. Jika antibiotika hanya diminum sehari-dua, kuman di dalam gusi belum mati semua, sehingga infeksi gusi dan sakit gigi akan kambuh lagi.

I. DEFINISI RESISTENSI

Resistensi adalah mekanisme tubuh yang secara keseluruhan membuat rintangan untuk berkembangnya penyerangan atau pembiakan agent menular atau kerusakan oleh racun yang dihasilkannya.

Resistensi antibiotika timbul bila suatu antibiotika kehilangan kemampuannya untuk secara efektif mengendalikan atau membasmi pertumbuhan bakter; dengan kata lain bakteri mengalami “resistensi” dan terus berkembangbiak meskipun telah diberikan antibiotika dalam jumlah yang cukup untuk pengobatan.

J. KLASIFIKASI RESISTENSI

Resistensi antibiotika dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok,yaitu resistensi alami dan resistensi yang didapat.

  1. Resistensi alami.

Resistensi alami merupakan sifat dari antibiotika tersebut yang memang kurang atau tidak aktif terhadap kuman, contohnya Pseudomonas aeruginosa yang tidak pernah sensitive terhadap chloramphenicol.

  1. Resistensi yang di dapat.

Resistensi yang didapat yaitu apabila kuman tersebut sebelumnya sensitive terhadap suatu suatu antibiotika kemudian berubah menjadi resisten, contohnya ialah Pseudomonas aeruginosa resisten terhadap ceftazidime.

K. AKIBAT YANG TIMBUL KARENA RESISTENSI ANTIBIOTIKA

- Infeksi bakteri resisten antibiotika lebih sulit disembuhkan.

- Sakit lebih lama.

- Butuh antibiotika lebih kuat (lebih toksik)

- Butuh biaya pengobatan lebih mahal

- Kematian pada penderita.

L. MEKANISME TERJADINYA RESISTENSI

Untuk mendapatkan efek terapi,antibiotika pertama kali harus mencapai target kedalam sel kuman. Kuman gram negatif mempunyai outer membrane yang sedikit menghambat antibiotika masuk kedalam sitoplasma. Selanjutnya apabila terjadi mutasi dari lubang pori outer membrane berakibat antibiotika menjadi lebih sulit masuk kedalam sitoplasma atau menurunnya permeabilitas membrane terhadap antibiotika,oleh karena lubang pori dari outer membrane tersebut tidak bersifat selektif maka satu mutasi dari pori tersebut dapat menghambat masuknya lebih dari satu jenis antibiotika.

Ada berbagai mekanisme yang menyebabkan suatu populasi kuman mejadi resisten terhadap antibiotika, mekanisme itu antara lain :

  1. Mikroorganisme memproduksi enzym yang merusak daya kerja obat, contohnya adalah stafilokokus yang resisten terhadap penisilin disebabkan karena stafilokokus memproduksi enzym beta laktam yang memecah cincin beta laktam dari penisilin sehingga penisilin tidak aktif lagi bekerja.
  2. Terjadinya perubahan permeabilitas kuman terhadap obat tertentu, contohnya adalah streptokokus yang mempunyai barier alami terhadap obat golongan aminoglikosida.
  3. Terjadinya perubahan pada tempat tertentu dalam sel sekelompok mikroorganisme yang menjadi target obat, misalnya obat golongan aminoglikosida yang memecah atau membunuh kuman karena obat ini merusak sistem ribosom sub unit 30S. Bila oleh suatu hal,tempat/lokus kerja obat pada ribosom sub unit 30S berubah, maka kuman tidak lagi sensitif terhadap golongan obat ini.
  4. Terjadinya perubahan pada metabolic pathway yang menjadi target obat,misalnya kuman yang resisten terhadap obat golongan sulfonamida, tidak memerlukan PABA dari luar sel, tapi dapat menggunakan asam folat, sehingga sulfonamida yang berkompetisi dengan PABA tidak berpengaruh pada metabolisme sel.
  1. Terjadi perubahan enzymatik sehingga kuman meskipun masih dapat hidup dengan baik, tapi kurang sensitif terhadap antibiotik, contohnya adalah kuman yang sensitif terhadap sulfonamida yang mempunyai affinitas yang lebih besar terhadap sulfonamida dibandingkan dengan PABA sehingga kuman akan mati.

M. ASAL MULA TERJADINYA RESISTENSI KUMAN TERHADAP OBAT

Asal mula yang menyebabkan Resistensi kuman terhadap obat dibagi menjadi sebab non genetik dan genetik.

  1. Sebab-sebab non genetik

Hampir semua obat antibiotika bekerja baik pada masa aktif pembelahan kuman, dengan demikian, populasi kuman yang tidak berada pada fase pembelahan aktif pada umumnya relatif resisten terhadap obat. Misalnya kuman TBC yang tinggal didalam jaringan dan tidak membelah aktif karena adanya mekanisme pertahanan badan, maka pada kondisi ini obat anti TBC tidak dapat membunuh kuman TBC tersebut.

  1. Sebab-sebab genetik

Terjadinya resistensi kuman terhadap antibiotika umumnya terjadi karena perubahan genetik. Perubahan genetik bisa terjadi secara kromosomal maupun ekstra kromosomal dan perubahan genetik tersebut dapat ditransfer dari satu spesies kuman kepada spesies kuman lain melalui berbagai mekanisme,yaitu :

  1. Resistensi kromosomal

Resistensi kuman terhadap antibiotika yang mempunyai sebab genetik kromosomal misalnya terjadi karena mutasi spontan pada lokus ADN yang mengontrol susceptibility terhadap obat tertentu, sebagai contoh adalah protein P12 pada ribosom kuman sub unit 30S adalah reseptor dari antibiotika streptomisin. Mutasi pada gen yang mengontrol struktur protein P12 tersebut akan menyebabkan kuman menjadi resisten terhadap streptomisin.

  1. Resistensi ekstra kromosomal

Bakteri mengandung pula materi genetik yang ekstrakromosomal yang disebut plasmid. Plasmid adalah molekul DNA yang bulat/sir­kuler :

- Mempunyai berat 1-3% dari kromo­som bakteri

- Berada bebas dalam sitoplasma bakteri

- Adakalanya dapat bersatu ke dalam kromosom bakteri

- Dapat melakukan replikasi sendiri secara otonom

-Dapat pula berpindah atau dipindahkan dari satu spesies ke spesies lain.

Beberapa contoh dari plasmid adalah:

- Faktor R

Faktor R adalah satu golongan plasmid yang membawa gen-gen untuk resistensi terhadap satu atau lebih antibiotika dan logam berat. Gen dalarn plasmid yang menyebabkan resisten obat seringkali memproduksi enzim-enzim yang dapat merusak daya kerja obat. Contoh: Plasmid yang menentukan resistensi untuk penisilin dan sefalosporin memproduksi ensim beta laktamase.

- Toksin

Beberapa toksin dari kuman juga merupakan produk dari plasmid, misalnya Enterotoksige­nik Escherichia coli memproduksi toksin yang menyebabkan diare pada anak.

- Faktor F

Faktor F =fertility factor memegang peranan dalam proses konjugasi Bakteri, yaitu transfer unilateral dari materi genetik antara bakteri sejenis maupun dengan jenis lain dapat terjadi melalui proses konjugasi (kawin).

Hal ini dimungkinkan karena adanya faktor F yang menentukan adanya sex pili. Kuman yang mempunyai sex pili disebut kuman F+, dan melalui pilinya tersebut materi genetik dari sel donor (F+) termasuk plasmid DNA-nya dapat berpindah ke dalam sel resipien. Jadi gen-gen tertentu yang membawa sifat resistensi pada obat dapat berpindah dari populasi kuman yang resisten ke dalam kuman yang sensitif. Dengan cara inilah sebagian besar dari sifat resisten obat tersebar dalam populasi kuman dan me­nimbulkan apa yang disebut multi drug resistanc­e.

  1. Resistensi silang

Satu populasi kuman yang resisten terhadap satu obat tertentu dapat pula resisten terhadap obat yang lain yang mempunyai mekanisme kerja obat yang mirip satu sama lain. Hal ini misalnya terjadi pada obat-obatan yang komposisi kimianya ham­pir sama, misalnya antara polimiksin B dengan kolistin, eritromisin dengan oleandomisin, dan neomisin dengan kanamisin.

N. PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIBIOTIKA

1. Antibiotika yang diketahui menimbulkan masalah resistensi harus

dibatasi penggunaanya .

2. Pemberian resep yang tepat sehingga masyarakat tidak boleh

Menggunakan Antibiotik sembarangan tanpa rujukan dokter. Sebab,

jenis dan dosis antibiotik pun ada banyak ragamnya.

3. Penggunaan dosis yang tepat dimana pemberian antibiotika pada anak tentu

dosisnya lebih kecil dari orang dewasa.

4. Lama pemberian obat yang tepat dimana antibiotika diberikan lebih dari 3

hari sehingga kuman betul-betul telah mati.

5. Interval pemberian obat yang tepat yaitu ada jenis antibiotik yang

dikonsumsi satu kali dalam sehari, dua kali, atau tiga kali sehari. Bahkan,

ada juga yang harus mengonsumsinya dua tablet dua kali sehari.

O. BEBERAPA JENIS ANTIBIOTIKA SERTA RESISTENNYA

Dibawah ini akan dibahas beberapa kelompok antibiotika serta resistensi yang terjadi :

1. PENISILIN

Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium chrysogenum; dari berbagai macam jenis yang dihasilkan, perbedaannya hanya ter­letak pada gugusan samping R saja, Benzilpenisilin (pen-G) ternyata paling aktif. Sedangkan Sefalosporin diper­oleh dari jamur Cephaloritun acremonium yang berasal dari Sicilia (1943).

Kedua kelompok antibiotika memiliki rumus bangun serupa, keduanya memiliki Cincin beta-laktam. Cincin ini merupakan syarat mutlak untuk khasiatnya. jika cincin ini dibuka misalnya oleh enzim beta-laktamase (penisilinase atau sefalos­porinase), maka zat menjadi inaktif.

Pada umumnya penisilinase hanya dapat mengin­aktifkan penisilin dan tidak sefalosporin, kebalikannya berlaku untuk sefalosporinase.

AktivitasPenisilin-G dan turunannya bersifat bakte­risid terhadap kuman Gram-posi­tif dan hanya beberapa kuman Gram-negatif. Penisilin termasuk antibiotika spektrum-sempit, begitu pula penisilin-V dan analognya. Ampisilin dan turunannya, sedang sefalosporin memiliki spektrum-kerja lebih luas, yang meliputi banyak kuman Gram-negatif, antara lain H. infiuenzae, E. coli, dan P mirabilis. Beberapa sefalosporin bahkan aktif terhadap kuman Pseudomonas.

Sebagaimana telah di­utarakan, antibiotika bakterisid ini tidak dapat dikombinasikan dengan bakteriostatika seperti tetrasiklin, kloramfenikol, eritro­misin dan asam fusidat. Ini karena zat-zat yang disebutkan terakhir menghambat per­tumbuhan sel dan dindingnya.

Mekanisme kerja Penisilin melalui dinding-sel kuman terdiri dari suatu jaringan peptidoglikan, yaitu polimer dari senyawa amino dan gula, yang saling terikat satu dengan yang lain (crosslinked) dan dengan demikian memberikan ke­kuatan mekanis pada dinding. Penisilin dan sefalosporin menghindarkan sintesa Iengkap dari polimer ini yang spesifik bagi kuman dan disebut murein. Bila sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau menyerap air dengan jalan osmosis, maka dinding-sel yang tak sempurna itu akan pecah dan bak­teri musnah.

Resistensi penisilin terjadi dimana kuman untuk melin­dungi diri terhadap efek mematikan dari antibiotika beta-laktam adalah pemben­tukan enzim beta-laktamase. Semula hanya Stafilococci dan E. coli berdaya membentuk penisilinase dalam plasmid, yang mengan­dung gen-gen (faktor keturunan) untuk sifat ini. Tetapi gen-gen tersebut telah ditularkan ke kuman lain dengan jalan penggabungan (konyugasi). Maka, kini kebanyakan kuman memiliki kemampuan ini dan resistensi telah disebarluaskan dengan pesat. Untuk mengatasi masalah resistensi kuman yang amat serius ini, peneliti telah mensintesa dua jenis senyawa, yaitu derivat yang tahan laktamase dan yang memblok laktamase.

Zat-zat tahan-laktamase antara lain meti­silin dan turunannya (klok_sasilin, flukloksasi­lin) serta sefalosporin tertentu yang terdiri dari sefotaksim, seftizoksim, dan seftriakson. Molekul dari zat-zat ini mengandung gugus yang ‘mengelilingi dan melindungi’ cincin beta-laktam. Karena perintangan ruang ini, maka enzim tidak dapat mendekati molekul untuk menguraikannya.

Kloksasilin dan turunannya hanya tahan terhadap penisilinase yang berasal dari Stafilococci, untuk laktamase kuman lain, zat-zat ini masih sensitif. Turunan sefa­losporin tersebut di atas tahan terhadap bermacam-macam laktamase yang dibentuk berbagai kuman.

Sejak akhir tahun 1980-an telah muncul kuman Stafilokok yang ternyata sangat resisten terhadap penisilin tersebut dan sangat meresahkan rumah sakit. Kuman itu dinamakan MRSA (Methicillin Resistent Staphylococcus Aureus). Dalam rentang waktu agak singkat, kuman ini telah menja­di resisten terhadap hampir semua antibio­tika. Pengecualian adalah antibiotika dari kelompok glikopeptida: vankomisin dan teikoplanin. Tetapi, akhir tahun 1998 telah ditemukan beberapa suku yang bersifat resisten terhadap vankomisin. Menurut perkiraan, kuman ini akan merajalela dalam rentang waktu yang tidak begitu lama (N Engl J Med 1999;340: 556-7, J Clin. Microbiol 1999; 37: 413-6).

Laktamase-blockers antara lain asam klavu­lanat dan sulbaktam (Unasyn). Senyawa ini merintangi efek laktamase dengan jalan mengikatnya dengan membentuk kom­pleks. Namun, zat ini tidak berdaya ter­hadap banyak sefalosporirtase jenis tertentu. Kombinasinya dengan amoksisilin atau ampisilin adalah sangat berharga dalam usaha melawan kuman resisten.

2. SEFALOSPORIN

Sefalosporin termasuk antibiotika beta-lak­tam dengan struktur, khasiat dan sifat yang banyak mirip penisilin. Diperoleh secara semisintetis dari sefalosporin C yang diha­silkan jamur Cephalosporium ncremonium. Inti senyawa ini adalah 7-ACA (7-arnino-cep{ut­losporanic acid) yang banyak mirip inti-peni­silin 6-APA (6-aminopenicillanic acid). Pada dasawarsa terakhir, puluhan turunan sefalosporin baru telah dipasarkan yang struktumya diubah secara kimiawi dengan maksud memperbaiki aktivitasnya.

Spektrum-kerjanya luas dan meliputi banyak kuman Gram positif dan negatif, termasuk E. coli, klabsiella, dan Proteus. Berkhasiat bakterisid dalam fase pertum­buhan kuman, berdasarkan penghambatan sintesa peptidoglikan yang diperlukan kuman untuk ketangguhan dindingnya. Kepe­kaannya untuk beta-laktamase lebih rendah daripada pensilin.

Penggolongan menurut khasiat antimikrobanya dan resis­tensinya terhadap beta-laktamase, sefalosporin lazimnya digolongkan sebagai ber­ikut :

a.Generasi ke-1: sefalotin dan sefazolin, sefradin, sefaleksin, dan sefadroksil. Zat-zat ini terutama aktif terhadap cocci Gram­positif, tidak berdaya terhadap gono­cocci, H. influenzae, Bacteroides, dan Pseudomonas. Pada umumnya tidak tahan terhadap laktamase.

b.Generasi ke-2: sefaklor, sefamandol, sefmetazol, dan sefuroksim lebih aktif ter­hadap kuman Gram-negatif, termasuk H. influenzae, Proteus, Klebsiella, gono­cocci, dan kuman-kuman yang resisten untuk amoksisilin. Obat-obat ini agak kuat tahan-laktamase. Khasiatnya ter­hadap kuman Gram-positif (Staf. dan Strep.) lebih kurang sama.

c.Generasi ke-3: sefoperazon, sefotaksim, sef­tizoksim, seftriakson, sefotiam, sefiksim, dan sefprozil. Aktivitasnya terhadap kuman Gram-negatif lebih kuat dan lebih luas lagi dan meliputi Pseudomonas dan Bacteroides, khususnya seftazidim, sefsu­lodin dan sefepim. Resistensinya terhadap laktamase juga lebih kuat, tetapi khasiat­nya terhadap stafilokok jauh lebih ringan. Tidak aktif terhadap MRSA dan MRSE (Methicillin Resistant Staphylo­coccus Epidermis).

d.Generasi ke-4: sefepim dan sefpirom. Obat-obat baru ini (1993) sangat resisten terhadap laktamase dan sefepim, juga aktif sekali terhadap Pseudomonas.

3. AMINOGLIKOSIDA

Aminoglikosida dihasilkan oleh jenis fungi Streptomyces dan Micromonospora. Semua senyawa dan turunan semi-sintetis­nya mengandung dua atau tiga gala-amino di dalam molekulnya, yang saling terikat secara glukosidis. Adanya gugusan ­amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan garam-sulfatnya yang digunakan dalam terapi mudah larut di air.

Penggolongan Aminoglikosida dapat dibagi atas dasar rumus kimianya, yaitu:

  • Streptomisin mengandung Bata molekul gala-amino dalam molekulnya.
  • Kanamisin dengan turunannya ami­kasin dan dibekasin, gentamisin dan turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua molekul gala yang dihubungi oleh sikloheksan.
  • Neomisin, framisetin, dan paromomisin dengan tiga gala-amino.

Spektrum-kerjanya luas dan meliputi ter­utama banyak bacilli Gram-negatif, antara lain E. coli, H. influenzae, Klebsiella, Proteus, Enterobacter, Salmonella, dan Shigella. Obat ini juga aktif terhadap gonococci dan sejum­lah kuman Gram-positif (antara lain Staphyl. aureus/epidermis). Streptomisin, kanamisin, dan amikasin aktif terhadap kuman tahan­ asam Mycobacterium (tbc dan lepra). Ami­kasin dan tobramisin berkhasiat kuat ter­hadap Pseudomonas, sedangkan gentamisin lebih ringan. Tidak aktif terhadap kuman anaerob. Amikasin memiliki spektrum-kerja yang paling luas, sedangkan aktivitas kerja gentamisin dan tobramisin sangat mirip.

Aktivitasnya adalah bakterisid, berdasar­kan dayanya untuk mempenetrasi dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Proses translasi (RNA dan DNA) diganggu sehingga biosintesa proteinnya dikacaukan. (Ribosom adalah partikel-par­tikel kecil dalam protoplasma sel, yang kaya akan RNA, tempat terjadinya sintesa pro­tein). Efek ini tidak saja terjadi pada fase pertumbuhan, melainkan juga bila kuman tidak membelah diri.

Resistensi dapat terjadi agak pesat akibat terbentukya enzim yang merombak struktur antibiotikum. Informasi genetis bagi enzim-enzim itu dapat ditulari melalui plasmid, hingga resistensi dapat menjalar ke kuman lain. Streptomisin dan kanamisin paling sering mengalami resistensi, amikasin paling jarang. Kombinasi dengan antibiotika betalak­tam menghambat terjadinya resistensi. Di samping itu, kombinasinya juga saling memperkuat kerjanya (potensiasi).

4. TETRASIKLIN

Senyawa tetrasiklin semula (1948) diperoleh dari Streptomyces aureofaciens (klorte­trasiklin) dan Streptomyces rimosus (oksite­trasiklin). Tetapi setelah 1960, zat-induk tetrasiklin mulai dibuat secara sintetis seluruhnya, yang kemudian disusul oleh derivat -oksi dan -klor serta senyawa long acting doksisiklin dan minosiklin Khasiatnya bersifat bakteriostatis, hanya melalui injeksi intravena dapat dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah.

Mekanisme kerjanya berdasarkan diganggunya sintesa protein kuman. Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak cocci Gram positif dan Gram-negatif serta kebanyakan bacilli, kecuali Pseudomonas dan Proteos. Begitu pula aktif terhadap mikroba khusus seperti Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata trachoma dan penyakit pada infeksi berat, doksisiklin diberikan secara ix. /infus

Resistensi terhadap Tetrasiklin adalah perlindungan terhadap ribosom. Perlindungan ini diberikan oleh protein sitoplasma, bila protein sitoplasma ini muncul di sitoplasma bakteri,maka Tetrasiklin tidak akan mengikat ke ribosom.

5. MAKROLIDA DAN LINKOMISIN

Kelompok antibiotika ini terdiri dari eritro­misin (EM) dengan derivat-derivatnya klar­itromisin (KM), roxitromisin (RM), azitro­misin (AM), dan diritromisin (DM). Spiramisin dianggap termasuk kelompok ini karena rumus bangunnya yang serupa, yaitu cincin lakton besar (makro) yang mana terikat turunan gula (1,2). Linkomisin dan klindamisin secara kimiawi berbeda de­ngan eritromisin, tetapi mirip sekali menge­nai aktivitas, mekanisme kerja dan pola resistensinya, bahkan terdapat resistensi­ silang

Aktivitas Eritromisin bekerja bakterio­statis terhadap terutama bakteri Gram­ positif, dan spektrum kerjanya mirip penisilin-G. Mekanisme kerjanya mela­lui pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga sintesis proteinnya dirintangi. Bila digunakan terlalu lama atau sering dapat terjadi resistensi.

Resistensi pada antibiotika ini adalah dengan mengikat ribosom dengan adanya perubahan pada ribosom oleh enzim rRNA methilase, maka tidak akan terjadi ikatan antibiotika dengan ribosom kuman.

6. POLIPEPTIDA

Kelompok ini terdiri dari polimiksin B dan polimiksin E (= kolistin), basitrasin dan gramisidin, dan bercirikan struktur polipep­tida siklis dengan gugusan amino bebas. Berlainan dengan antibiotika lainnya yang diperoleh dari jamur, obat-obat ini dihasil­kan oleh jenis bakteri. Polimikcin hanya aktif terhadap kuman Gram-negatif terma­suk Pseudornonas, sedangkan basitrasin dan gramisidin terutama terhadap kuman Gram­ positif.

7. KLORAMFENIKOL KEMICETINE.

Semula diperoleh dari sejenis Strepto­myces (1947), tetapi kemudian dibuat wears sintetis. Antibiotikum brardsyectrum ini ber­khasiat terhadap hampir semua kuman Gram-positif dan sejumlah kuman Gram ­negatif, jugs terhadap spirokhaeta, Chlamy­dur trachomatis dan Mycoplasma_ Tidak aktif terhadap kebanyakan suku Pseudomonas, Proteus, dan Enterobacter.

Penggunaannya berhubung resiko anemia aplastis fatal, kloram­fenikol tahun 1970-an jarang digunakan lagi. Dewasa ini hanya dianjurkan pada beberapa infeksi bila tidak ada kemungkinan lain, yaitu pada infeksi tifus dan meningitis, juga pada infeksi ane­rob yang sukar dicapai obat, khususnya abces otak oleh B. fragdis..

Resistensi dapat timbul dengan agak lam­bat , tetapi resistensi ekstra-kromosomal melalui plasmid juga terdapat, antara lain terhadap basil tifus perut.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Timbulnya resistensi dari populasi kuman terhadap berbagai jenis antibiotika menimbulkan banyak problem dalam pengobatan penyakit infeksi, khususnya di rumah sakit di mana digunakan antibiotika dosis tinggi dan dalam intensitas yang besar, ditambah lagi dengan munculnya jenis kuman yang henjadi sumber utama infeksi. Banyak faktor yng mempengaruhi munculnya kuman resisten terhadap antibiotika, faktor yang paling penting adalah faktor penggunaan antibiotika dan pengendalian infeksi. Oleh karena itu penggunaan antibiotika secara bijaksana merupakan hal yang sangat penting, disamping penerapan pengendalian infeksi secara baik untuk mencegah berkembangnya kuman-kuman resisten tersebut kemasyarakat.

B. SARAN

Dianjurkan kepada setiap dokter dimanapun untuk lebih berhati-hati menggunakan obat antibiotika dalam dosis yang cukup tinggi dan mencegah pemakaian obat-obat antibiotika yang poten, sehingga mengurangi atau memperlamb resistensi terhadap antibiotika.

Resistensi antibiotika adalah akibat yang harus ditanggung jika menggunakan antibiotika secara tak tepat. Kita butuh dosis yang lebih besar bila terjadi resistensi. Demi menghindari resistensi, berikut ini panduan mengonsumsi antibiotika :

1.Habiskan obat yang diresepkan dokter meskipun gejala penyakit membaik. Jika tidak, abtibiotika tidak diberi waktu cukup untuk mengobati infeksi secara menyeluruh, sehingga kelak menimbulkan kekambuhan. Bakteri juga menjadi resisten sehingga antibiotika tak lagi manjur jika Anda kena penyakit yang sama.

2.Ikuti petunjuk dokter dengan seksama. Minum obat sesuai anjuran dokter.

3.Jangan minum dosis dobel untuk menutup obat yang kelupaan diminum.

Terus minum obat sesuai anjuran dokter dan lewati dosis yang kelupaan itu.

4.Jangan berbagi antibiotika dengan siapapun.

5.Jangan minum antibiotika sisa yang dulu pernah diresepkan. Lebih baik buang saja.

6.Jika terjadi efek samping antibiotika atau tak ada tanda perbaikan, konsultasi dengan dokter lagi.

7.Simpan obat antibiotika di tempat yang kering dan sejuk. Simpan antibiotika cair di dalam lemari es.

DAFTAR PUSTAKA

Antibiotika Baru : Berpacu Dengan Resistensi Kuman, Azril Kimin, Januari 2008

APUA: Alliance for the Prudent Use of Antibiotics,Masalah Resistensi Antibiotik Http://www.tufts.edu/med/apua, Januari 2007

Mikrobiologi Kedokteran, Jawet, Melnick & adelberg’s, Buku 1 hal 224, 2005

Medikamentosa , Daniel, Edisi April 2006 (Vol.5 No.9)

Obat-obat penting, Khasiat, penggunaan dan efek sampingnya, Hoan Tan Tjay,drs & Kirana Rahardja,drs, penerbit Elexmedia Computindo,hal 63, agustus 2003.

Pengantar Epidimiologi Penyakit Menular, Nasry Nur Noor, Prof,Dr,MPH, Penerbit Bineka Cipta hal 27, Pebruari 2006.

Resistensi Antibiotik, Hadi Usman, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,Jilid III Edisi IV, hal 1703, Mei 2006.


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: